Stasiun Lasem

Pada tahun 1351 masehi, Kerajaan Lasem dibentuk sebagai  Kerajaan kecil  di bawah Kerajaan Majapahit dipimpin oleh Ratu Dewi Indu atau Bhre Lasem, yang masih keponakan raja Hayam Wuruk. Pada masa ini telah berhasil mengembangkan pelabuhannya menjadi kota bandar yang ramai disandari kapal-kapal yang mengangkut berbagai barang dagangan dari dalam dan luar negeri termasuk expedisi perdagangan kerajaan China.

Pada abad XV-XVII, kota Lasem telah ramai dihuni etnis Tionghoa. Selain pelabuhan untuk berlabuh kapal dagang dari berbagai negara, Stasiun kereta api Lasem juga turut berperan serta dalam pengangkutan barang dagangan.

Stasiun Lasem dibangun pada masa pendudukan Hindia Belanda oleh Semarang-Joana Stoomtram Maatschappij (SJS) yang merupakan salah satu perusahaan kereta api dan trem yang mendapat konsesi untuk memasang jalan rel dan mengeksploitasinya sebagai alat angkutan. Stasiun Lasem dibangun berdasarkan surat Penunjukan Gubernur (Gouvernement Besluit) tepatnya tanggal 18 Maret 1881 no 5 SJS.

Stasiun Lasem dibangun pada tahun 1883-1900 dengan luas bangunan Stasiun dan Overkappingnya 70 m2 diatas tanah seluas 29930 m2 terletak di kelurahan Dorokandang, Kecamatan Lasem Kabupaten Rembang. Kecamatan Lasem berada di pantai Utara Jawa Tengah terletak ±13 km dari ibukota Kabupaten. Stasiun ini menghubungkan Semarang-Lasem.

Bangunan Stasiun Lasem tampak semakin menawan dengan ragam Arsitektur bangunan khas China daratan dengan lengkung manis diatapnya, dengan ornamen piring-piring porselen bergambar burung Phoenix, Naga atau Dewa dimana akulturasi dan asimilasi budaya Tionghoa dan Jawa terlihat sangat kental.

Kejayaan kota Lasem pun kembali dialami setelah dibangun jalan kereta api tersebut dan dilanjutkan pembangunannya menghubungkan Lasem dengan kota-kota pedalaman seperti Bojonegoro sampai Surabaya disebelah Timur.

Pada tahun 1989, Stasiun Lasem terpaksa ditutup karena dianggap tidak efisien dikarenakan sudah banyaknya kendaraan angkutan umum yang lewat jalan raya, saat ini area stasiun ini difungsikan sebagai pangkalan truck yang tidak resmi.

Berdasarkan UU No 11 tahun 2010, Sebagai salah satu Bangunan Cagar Budaya Stasiun Kereta Api Lasem diharapkan bisa dipakai sebagai pemicu dalam menciptakan kembali suasana masa kejayaan kota Lasem dan jaringan perkeretapian dalam bentuk adaptasi yang lain dengan melestarikan, merawat serta menjaga keberadaan bangunannya yang bersinergi pada  beberapa potensi budaya daerah yaitu sebagai kawasan penghasil kerajinan batik Lasem bercorak pesisir yang khas serta potensi wisata yang menarik diantaranya museum kamar pengabdian, taman rekreasi pantai serta  RA Kartini.

 
Share |
  Copyright © 2010 - Pusat Pelestarian dan Benda Bersejarah   
 
Photo's Courtesy KITLV, The Netherlands
Language: