Stasiun Jatinegara

Keberadaan stasiun Jatinegara yang merupakan karya Ir. Snuyff, tak dapat dilepaskan dari kawasan Jatinegara itu sendiri yang sarat dengan sejarah dan terlihat dari banyaknya bangunan bersejarah yang pantas untuk dilestarikan. Kawasan Jatinegara awalnya bernama Meester Cornells, mengacu pada nama Cornelis Senen seorang guru yang mendirikan sekolah, mengajar dan memberikan khotbah di kawasan itu sehingga dia mendapat julukan meester atau tuan guru. Nama Jatinegara mulai digunakan pada jaman penjajahan Jepang yang menganggap nama Meester terlalu berbau Belanda. Ada pendapat bahwa Jatinegara berasal dari kata 'Negara Sejati' sebutan dari Pangeran Jayakarta yang sudah lebih dulu mendirikan perkampungan Jatinegara Kaum setelah pemerintahan Belanda menghancurkan Keraton Sunda Kelapa.

Wilayah Jatinegera mulai berkembang pesat pada awal abad ke 20 atau sekitar tahun 1905, seiring dengan perluasan wilayah Batavia. Banyak bangunan di Jatinegara dibangun pada periode itu. Untuk kepentingan masyarakat, khususnya orang-orang berkebangsaan Belanda yang berdomisili di daerah tersebut pemerintah Kolonial mengembangkan sarana transportasi pendukung. Pada tanggal 16 Juni 1872 jalur kereta api Gambir — Jatinegara diresmikan pemakaiannya dan kemudian dilanjutkan untuk jalur Jatinegara — Bogor setahun kemudian. Berikutnya pada tahun 1925 kereta listrik mulai dioperasikan untuk menghubungkan Jatinegara dengan Tanjung Priok dan Manggarai.

Banyaknya transportasi publik yang melintasi Jatinegara menunjukkan bahwa daerah ini merupakan wilayah penting dan cukup ramai sejak dahulu dan stasiun kereta api menjadi fasilitas publik yang vital. Hingga saat ini, Stasiun kereta api Jatinegara yang sebelum kemerdekaan bernama Stasiun Meester Cornelis merupakan stasiun penting tempat bertemunya tiga jalur kereta api yaitu jalur ke Pasar Senen, jalur ke Manggarai, dan jalur ke Bekasi. Stasiun ini setiap harinya dilewati sekitar 350 kereta api yang menghubungkan kota Jakarta ke semua jurusan di Pulau Jawa. Meskipun untuk pemberangkatan keluar Jakarta tidak semua kereta api menaikkan penumpang dari stasiun ini, namun semua kereta api yang datang ke Jakarta berhenti untuk menurunkan penumpang.

Stasiun Jatinegara hingga saat ini masih berdiri kokoh di Jalan Bekasi Barat, Jatinegara, Jakarta Timur, diperkirakan dibangun oleh Staats Spoorwegen (SS) pada tahun 1901 dan telah ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya. Sebagai fasilitas publik yang disinggahi semua kereta api dari dan keluar Jakarta, stasiun ini dilengkapi sembilan loket, dua loket untuk pemesanan dan tujuh loket pembelian langsung. Seperti halnya stasiun singgah lainnya, Stasiun Jatinegara berbentuk stasiun satu sisi dengan emplasemen yang berada sejajar dengan bangunan stasiun. Disamping itu stasiun ini juga berfungsi sebagai depo lokomotif kereta api untuk lokomotif lokomotif yang perlu perawatan berskala ringan.

Bangunan stasiun menampilkan rancangan arsitektur yang merupakan gaya peralihan antara Indische Empire dengan gaya Kolonial Modern yaitu gaya arsitektur Eropa yang mencoba menyesuaikan diri dengan kondisi lingkungan di Indonesia. Penggunaan atap dengan kemiringan tajam yang sesungguhnya merupakan bentuk atap rumah Eropa, dimana kemiringan atap yang tajam ditujukan agar salju cepat jatuh, sementara rumah pada iklim tropis hanya membutuhkan kemiringan atap yang landai untuk mengalirkan air hujan. Bidang-bidang bukaan seperti pintu, jendela, jalusi atau clerestory (jendela atap) yang lebar-lebar yang ditujukan untuk pencahayaan alami dan penghawaan silang yang sesuai pada iklim tropis yang lembab. Tampak depan bangunan tidak simetris, namun terlihat adanya penekanan pada bagian tengah sebagai vocal point atau pusat perhatian melalui ukuran ruang dan ketinggian bangunan yang lebih menonjol.

Meskipun tidak simetris, penekanan pada bagian tengah yang merupakan pintu masuk, hall dan tempat penjualan karcis dengan penonjolan bangunan dan kanopi, ditambah penempatan cupola di puncak atap sebagai vocal point.

Clerestory atau jendela atap biasanya berfungsi untuk memasukkan cahaya atau mengalirkan udara panas yang terperangkap di bawah atap. Sedangkan cupola di puncak atap merupakan elemen estetis sebagai vocal point atau pusat perhatian, pada jaman dulu cupola semacam ini kadang-kadang dipasangi lentera di dalamnya.

Area emplasemen dengan peron yang telah diperpanjang dengan tambahan atap kanopi berbentuk sayap. Lantai peron telah ditinggikan untuk memudahkan penumpang naik atau turun dari kereta. Suasana hall utama terasa luas namun tidak monoton dengan cahaya yang berasal dari pintu dan roster diatasnya. Bagian peron yang telah ditinggikan dengan atap tambahan berbentuk sayap.

 
Share |
Warning: Cannot modify header information - headers already sent by (output started at /home/autson/public_html/inowweb.com/aut.php:2) in /home/autson/public_html/lib/track.php on line 19 Warning: Cannot modify header information - headers already sent by (output started at /home/autson/public_html/inowweb.com/aut.php:2) in /home/autson/public_html/lib/track.php on line 20 Warning: Cannot modify header information - headers already sent by (output started at /home/autson/public_html/inowweb.com/aut.php:2) in /home/autson/public_html/lib/track.php on line 21
  Copyright © 2010 - Pusat Pelestarian dan Benda Bersejarah   
 
Photo's Courtesy KITLV, The Netherlands
Language: